Reward Bukan Sekadar Hadiah! Ini Cara Memberi Apresiasi yang Benar Agar Anak Makin Termotivasi
"Kalau kamu dapat nilai 100, Ibu belikan HP
baru!"
"Ayah janji traktir makan di restoran favoritmu
kalau kamu naik peringkat."
"Setiap dapat nilai bagus, kamu boleh main game
semalaman."
Pernahkah Anda, sebagai orang tua, mengucapkan
kalimat-kalimat seperti di atas? Atau bahkan Anda sendiri, sebagai anak, pernah
menerima janji-janji serupa dari orang tua?
Memberi reward (hadiah atau penghargaan)
atas prestasi belajar anak adalah praktik yang sudah sangat umum. Tujuannya
baik: memotivasi anak agar lebih giat belajar, menghargai usaha mereka, dan
membuat mereka merasa bangga.
Tapi, tahukah Anda bahwa reward yang salah justru
bisa BAKAR SEMANGAT anak dalam jangka panjang?
Ya. Ironisnya, niat baik Anda untuk memberi hadiah bisa
berbalik menjadi bumerang. Anak bisa menjadi:
- Materialistis (belajar
hanya demi hadiah, bukan demi ilmu).
- Kehilangan
motivasi intrinsik (tidak mau belajar jika tidak ada hadiah).
- Stres (merasa
bahwa cinta orang tua bergantung pada prestasi).
- Kecewa (jika
hadiah tidak sesuai ekspektasi).
Lalu, apakah berarti kita tidak boleh memberi reward sama
sekali?
TIDAK. Reward itu penting. Tapi caranya yang
harus diperbaiki.
Artikel sepanjang lebih dari 2.500 kata ini akan membedah
tuntas:
- Perbedaan
antara motivasi intrinsik (dari dalam diri) dan motivasi
ekstrinsik (dari luar).
- Kesalahan
fatal orang tua dalam memberi reward (tanpa disadari).
- Cara
memberi reward yang benar untuk anak SD, SMP, dan SMA (berbeda
karena usia berbeda).
- Alternatif
reward selain barang mahal (yang seringkali lebih berharga).
- Contoh
konkret dan studi kasus.
Mari kita ubah paradigma: Reward bukan alat kontrol.
Reward adalah bentuk apresiasi yang membangun karakter.
Bagian 1: Memahami Motivasi Intrinsik vs Ekstrinsik
Sebelum membahas reward, Anda harus paham dulu jenis
motivasi yang mendorong anak belajar.
Motivasi Intrinsik (Dari Dalam Diri)
Definisi: Dorongan untuk melakukan sesuatu
karena kegiatan itu sendiri menyenangkan atau bermakna.
Contoh pada anak:
- Anak
membaca buku karena penasaran dengan ceritanya.
- Anak
mengerjakan soal Matematika karena merasa puas saat berhasil memecahkan
masalah.
- Anak
belajar Bahasa Inggris karena ingin bisa nonton film favorit tanpa
subtitle.
Ciri-ciri:
- Tahan
lama (tidak mudah padam).
- Tidak
tergantung pada hadiah eksternal.
- Membangun
rasa otonomi dan kompetensi.
- Ini
adalah motivasi ideal yang ingin kita bangun.
Motivasi Ekstrinsik (Dari Luar Diri)
Definisi: Dorongan untuk melakukan sesuatu
karena hadiah atau untuk menghindari hukuman.
Contoh pada anak:
- Anak
belajar karena janji dapat HP baru.
- Anak
mengerjakan PR karena takut dimarahi guru.
- Anak
rapi menulis karena ingin dapat stiker bintang.
Ciri-ciri:
- Sementara
(begitu hadiah dihilangkan, motivasi bisa hilang).
- Tergantung
pada pemberi reward.
- Bisa
mematikan motivasi intrinsik jika berlebihan.
Hubungan Reward dan Motivasi Intrinsik
Inilah yang mengejutkan: Penelitian psikologi
menunjukkan bahwa memberikan reward eksternal untuk aktivitas yang sudah
intrinsik menyenangkan JUSTRU MENURUNKAN motivasi intrinsik.
Ini disebut Overjustification Effect (Efek
Justifikasi Berlebihan).
Pesan moral: Jangan memberi reward untuk hal
yang sudah disukai anak. Reward hanya untuk hal yang "sulit"
atau "membosankan" tapi perlu dilakukan.
Bagian 2: Kesalahan Fatal Orang Tua dalam Memberi Reward
Sebelum kita membahas cara yang benar, mari identifikasi
dulu kesalahan yang paling sering terjadi.
Kesalahan 1: Hanya Memberi Reward untuk Hasil (Nilai),
Bukan untuk Usaha
Contoh:
"Kalau nilai Matematika kamu 100, Ibu belikan sepatu
baru."
Mengapa salah:
- Anak
hanya fokus pada angka, bukan pada pemahaman konsep.
- Anak
yang sudah berusaha keras tapi hanya mendapat 85 merasa tidak dihargai.
- Anak
bisa melakukan kecurangan (mencontek) untuk mencapai target nilai.
Yang benar: Hargai usaha dan proses,
bukan hanya hasil akhir.
Kesalahan 2: Reward Terlalu Besar dan Terlalu Jauh
Contoh:
"Kalau kamu lulus UTBK, Ayah belikan mobil."
Mengapa salah:
- Terlalu
jauh di masa depan → anak kehilangan motivasi jangka pendek.
- Terlalu
besar → anak stres karena takut gagal memenuhi ekspektasi.
- Jika
gagal, kekecewaan anak dan orang tua sangat besar.
Yang benar: Reward harus dekat (bisa
dicapai dalam waktu singkat) dan proporsional dengan usaha.
Kesalahan 3: Reward Selalu Berupa Barang Mahal
(Materialistis)
Contoh:
HP baru, sepeda baru, uang, mainan mahal.
Mengapa salah:
- Anak
belajar bahwa "kebahagiaan = barang mahal".
- Anak
kehilangan apresiasi terhadap hal-hal sederhana.
- Jika
terus-menerus, Anda akan "kehabisan amunisi" (barang mahal
berikutnya harus lebih mahal).
Yang benar: Variasikan reward. Seringkali reward
non-material (waktu berkualitas, pujian, kebebasan) lebih berharga.
Kesalahan 4: Mengancam dengan Hukuman sebagai
"Reward Negatif"
Contoh:
"Kalau nilai kamu jelek, HP disita!"
Mengapa salah:
- Ini
adalah hukuman, bukan reward. Hukuman menciptakan rasa takut,
bukan motivasi.
- Anak
belajar karena takut, bukan karena ingin.
- Dalam
jangka panjang, anak bisa menjadi pemberontak atau justru penakut.
Yang benar: Fokus pada penguatan positif (memberi
reward untuk perilaku baik), bukan hukuman untuk perilaku buruk.
Kesalahan 5: Memberi Reward untuk Segala Hal
(Over-rewarding)
Contoh:
Setiap kali anak mengerjakan PR, diberi uang. Setiap kali
anak merapikan tempat tidur, diberi stiker.
Mengapa salah:
- Anak
kehilangan rasa tanggung jawab internal (melakukan sesuatu karena itu
kewajiban, bukan karena hadiah).
- Anda
akan kewalahan memberikan reward untuk semua hal.
Yang benar: Reward hanya untuk pencapaian
signifikan atau perilaku baru yang sedang dibangun. Untuk
rutinitas sehari-hari, gunakan pengingat dan pujian, bukan reward.
Bagian 3: Prinsip Dasar Memberi Reward yang Benar
Setelah mengetahui kesalahan, mari kita pelajari prinsip
dasarnya.
Prinsip 1: Apresiasi Usaha, Bukan Hanya Hasil
|
Jika anak mendapat nilai bagus karena belajar keras |
Puji usaha: "Kamu pasti sudah belajar dengan
sungguh-sungguh. Ibu bangga melihat usahamu." |
|
Jika anak mendapat nilai bagus tanpa belajar
(kebetulan/soal mudah) |
Jangan memberi reward besar. Katakan: "Nilai bagus,
ya. Tapi jangan bergantung pada keberuntungan." |
|
Jika anak mendapat nilai kurang tapi sudah belajar keras |
TETAP BERI APRESIASI! "Ibu lihat kamu sudah belajar
maksimal. Hasil memang belum sesuai harapan, tapi usaha kamu tidak sia-sia.
Ayo kita lihat哪里 salahnya." |
Prinsip 2: Reward Dekat (Jangka Pendek) untuk Target
Jangka Panjang
Target jangka panjang (seperti lulus UTBK) perlu dipecah
menjadi target-target kecil. Setiap target kecil diberi reward kecil.
Contoh untuk persiapan UTBK:
- Target
kecil 1: Belajar 1 jam setiap hari selama 1 minggu → Reward:
Nonton film bersama di akhir pekan.
- Target
kecil 2: Nilai tryout meningkat 10 poin → Reward: Makan di
restoran favorit.
- Target
besar: Lulus UTBK ke PTN pilihan → Reward: Liburan singkat (bisa
ke pantai atau gunung).
Prinsip 3: Variasikan Reward (Tidak Selalu Barang)
Jenis-jenis reward:
|
Jenis Reward |
Contoh |
Cocok untuk Usia |
|
Pujian spesifik |
"Kamu tadi bisa mengerjakan soal pecahan sendiri.
Hebat!" |
Semua usia |
|
Waktu berkualitas |
Bermain board game bersama, memasak bersama, nonton film |
SD, SMP, SMA |
|
Privilege (hak istimewa) |
Boleh main game 30 menit lebih lama, boleh pilih menu
makan malam |
SD, SMP |
|
Pengakuan publik |
Dipajang hasil karyanya di dinding, diceritakan ke
kakek-nenek |
SD, SMP |
|
Pengalaman (bukan barang) |
Jalan-jalan ke tempat yang belum pernah dikunjungi, ikut
workshop seru |
SMP, SMA |
|
Barang kecil |
Stiker, buku baru, alat tulis lucu |
SD |
|
Barang besar (jarang) |
HP, sepeda, laptop (hanya untuk pencapaian luar biasa) |
SMP, SMA |
Prinsip 4: Libatkan Anak dalam Menentukan Reward
Tanyakan pada anak: "Kalau kamu berhasil mencapai
target ini, kamu mau reward apa?" Ini memberi anak rasa kepemilikan
(ownership) terhadap targetnya.
Contoh:
"Nak, minggu depan kamu harus selesaikan proyek IPA.
Kalau kamu berhasil selesaikan tepat waktu dengan hasil yang baik, kamu mau
hadiah apa?"
Anak akan lebih termotivasi karena reward adalah pilihannya
sendiri, bukan paksaan orang tua.
Prinsip 5: Jangan Janjikan Reward yang Tidak Bisa
Ditepati
Jika Anda berjanji memberi reward, TEPATI. Jika
tidak, anak akan kehilangan kepercayaan pada Anda. Janji yang tidak ditepati
lebih buruk daripada tidak memberi reward sama sekali.
Jika terpaksa batal (karena keadaan darurat), jelaskan
dengan jujur dan tawarkan alternatif.
Bagian 4: Panduan Khusus Berdasarkan Usia (SD, SMP, SMA)
Cara memberi reward harus disesuaikan dengan tahap
perkembangan anak.
Untuk Anak SD (Usia 6-12 Tahun)
Karakteristik:
- Masih
sangat bergantung pada orang tua.
- Senang
dengan pujian dan pengakuan.
- Mulai
mengerti konsep "menabung reward".
Strategi reward yang efektif:
|
Jenis Reward |
Contoh |
|
Sticker chart (tabel stiker) |
Setiap kali anak mencapai target (misal: mengerjakan PR
tanpa disuruh), diberi 1 stiker. Kumpulkan 10 stiker → reward kecil (beli es
krim, main ke taman). |
|
Pujian spesifik dan antusias |
"Wah, kamu tadi bisa membereskan mainan sendiri!
Hebat banget!" (sambil tepuk tangan) |
|
Waktu bermain bersama orang tua |
"Karena kamu sudah belajar dengan rajin, Ibu temani
main puzzle 30 menit." |
|
Hak istimewa sederhana |
"Besok kamu boleh pilih menu sarapan." atau
"Kamu boleh tidur 30 menit lebih malam." |
|
Pengakuan visual |
Tempelkan hasil karya anak (gambar, tulisan, nilai bagus)
di dinding "Hall of Fame" keluarga. |
Yang perlu dihindari untuk anak SD:
- Reward
uang terlalu sering (bisa membuat anak materialistis sejak dini).
- Reward
elektronik (game, YouTube) tanpa batasan waktu.
- Membandingkan
reward antar saudara.
Contoh kasus anak SD:
*Andi (kelas 3 SD) malas mengerjakan PR Matematika. Ibunya
membuat "sticker chart" untuk 1 minggu. Setiap hari Andi mengerjakan
PR tanpa disuruh, dia mendapat 1 stiker. Setelah 5 stiker (Senin-Jumat), Andi
mendapat reward: diajak main ke taman bermain pada Sabtu pagi. Andi menjadi
lebih semangat.*
Untuk Anak SMP (Usia 12-15 Tahun)
Karakteristik:
- Mulai
mencari identitas diri.
- Mulai
kritis terhadap otoritas orang tua.
- Sangat
peduli dengan teman sebaya.
- Mulai
bisa diajak negosiasi.
Strategi reward yang efektif:
|
Jenis Reward |
Contoh |
|
Privilege digital |
Tambahan waktu main game, akses ke aplikasi streaming,
kuota internet tambahan. |
|
Pengalaman sosial |
Ibu mentraktir jalan-jalan dengan teman (ke bioskop, mal,
kafe). |
|
Kebebasan terbatas |
Diizinkan memilih baju sendiri untuk acara keluarga,
diizinkan mengatur jadwal belajar sendiri. |
|
Pengakuan dari orang tua |
Diceritakan ke kakek-nenem atau guru tentang prestasinya
(dengan izin anak). |
|
Barang yang mendukung hobi |
Alat olahraga, buku novel, alat musik, perlengkapan seni. |
Yang perlu dihindari untuk anak SMP:
- Reward
yang terlalu mengontrol (misal: "Kamu boleh pegang HP hanya jika
nilai bagus" – ini akan memicu pemberontakan).
- Reward
yang membandingkan dengan teman.
- Reward
yang mempermalukan anak di depan umum (tanpa izin).
Contoh kasus anak SMP:
*Budi (kelas 8 SMP) ingin naik peringkat di kelas. Orang
tuanya tidak menjanjikan HP baru. Sebaliknya, mereka berkata: "Nak, kalau
kamu berhasil naik 5 peringkat, Ayah akan traktir kamu dan dua temanmu ke
bioskop." Budi sangat termotivasi karena rewardnya melibatkan
teman-temannya (sosial). Dia berhasil naik 6 peringkat.*
Untuk Anak SMA (Usia 15-18 Tahun)
Karakteristik:
- Mulai
berpikir tentang masa depan (kuliah, karier).
- Ingin
dianggap dewasa dan dipercaya.
- Lebih
termotivasi oleh tujuan jangka panjang daripada hadiah instan.
Strategi reward yang efektif:
|
Jenis Reward |
Contoh |
|
Kepercayaan dan otonomi |
Orang tua tidak perlu mengawas belajar lagi (karena anak
sudah terbukti bertanggung jawab). |
|
Investasi untuk masa depan |
Membelikan kursus online, buku persiapan UTBK, laptop
untuk kuliah. |
|
Pengalaman mandiri |
Diizinkan liburan singkat bersama teman (dengan pengawasan
terbatas). |
|
Diskusi dewasa |
Diajak berdiskusi tentang keputusan keluarga (misal:
liburan keluarga, renovasi rumah). |
|
Dukungan eksplorasi minat |
Dibayarkan untuk mengikuti workshop, seminar, atau
kompetisi yang diminati. |
Yang perlu dihindari untuk anak SMA:
- Reward
yang terlalu kekanak-kanakan (stiker, tepuk tangan berlebihan).
- Reward
yang mengontrol (anak SMA perlu otonomi, bukan kontrol).
- Reward
yang tidak relevan dengan minat mereka.
Contoh kasus anak SMA:
*Citra (kelas 12 SMA) sedang fokus persiapan UTBK. Orang
tuanya berkata: "Nak, kami lihat kamu sudah sangat bertanggung jawab
dengan jadwal belajarmu. Mulai sekarang, kami tidak akan mengatur-atur lagi.
Kami percaya kamu. Sebagai bentuk apresiasi, kalau kamu berhasil masuk PTN
pilihan, kami akan belikan laptop baru untuk kuliah nanti." Citra merasa
dihargai dan dipercaya. Motivasi belajarnya meningkat.*
Bagian 5: Alternatif Reward Selain Barang Mahal (Yang
Sering Lebih Berharga)
Anda tidak harus mengeluarkan uang besar untuk memberi
reward. Seringkali, hal-hal sederhana justru lebih berkesan.
10 Alternatif Reward Kreatif
|
No |
Reward |
Cara Melakukannya |
|
1 |
Surat cinta dari orang tua |
Tulis surat tangan yang berisi kebanggaan Anda pada anak.
Simpan di bawah bantal. |
|
2 |
Sarapan spesial |
Bangun lebih pagi dan buatkan sarapan favorit anak dengan
bentuk lucu (misal: pancake bentuk bintang). |
|
3 |
"Kupon bebas PR" |
Buat kupon yang bisa ditukar: "Bebas mengerjakan PR
hari ini" (tapi pastikan guru mengizinkan). |
|
4 |
Fot sesi bersama |
Ajak anak foto bersama di studio atau di tempat favorit.
Cetak dan pajang di rumah. |
|
5 |
Tanaman atau hewan peliharaan kecil |
Ikan hias, kaktus, atau tanaman hias (ajarkan tanggung
jawab). |
|
6 |
Menginap di rumah kakek-nenek |
Quality time dengan keluarga besar (jika anak dekat dengan
kakek-nenek). |
|
7 |
Membuat video "Kebanggaan Orang Tua" |
Rekam video pendek di mana orang tua menyampaikan
kebanggaan mereka. Putar di acara keluarga. |
|
8 |
Hak memilih film saat nonton bareng keluarga |
Anak berhak memilih film yang akan ditonton semua anggota
keluarga. |
|
9 |
Mengajak anak ke tempat kerjanya (jika memungkinkan) |
Anak bisa melihat profesi orang tua dan merasa bangga. |
|
10 |
"Waktu khusus" tanpa saudara |
Anak mendapat waktu khusus bersama orang tua tanpa
diganggu adik/kakak. |
Bagian 6: Studi Kasus Nyata
Studi Kasus 1: Reward yang Salah (Ketika Hadiah Membunuh
Motivasi)
- Membacakan
buku bersama Dinda (quality time).
- Memuji
Dinda saat dia bercerita tentang buku yang dibacanya ("Wah, seru
sekali ceritanya. Kamu hebat bisa mengingat detail sebanyak itu.").
- Mengajak
Dinda ke perpustakaan atau toko buku untuk memilih buku sendiri (tanpa
janji hadiah).
Hasil: Setelah beberapa minggu, Dinda kembali
menikmati membaca. Motivasi intrinsiknya pulih.
Studi Kasus 2: Reward yang Benar (Membangun Motivasi
untuk Hal yang Sulit)
Pendekatan orang tua:
- Target
kecil: "Coba minggu ini kamu belajar 10 kosakata baru setiap
hari. Tidak perlu langsung bisa grammar."
- Reward: Setiap
hari berhasil menghafal 10 kosakata, Raka mendapat 1 stiker. Setelah 5
stiker (Senin-Jumat), Raka mendapat reward: boleh main game 30 menit lebih
lama di akhir pekan.
- Progress: Setelah
2 minggu, target dinaikkan: belajar 15 kosakata + 1 kalimat sederhana.
- Reward
meningkat: Setelah 2 minggu berturut-turut mencapai target, Raka
diajak menonton film berbahasa Inggris dengan subtitle Indonesia (di
bioskop).
- Puncak: Setelah
nilai Bahasa Inggris Raka naik menjadi 75, orang tua memberi reward besar:
mengikuti kursus Bahasa Inggris online (yang sebenarnya juga berguna untuk
masa depannya).
Hasil: Raka tidak langsung jatuh cinta dengan
Bahasa Inggris. Tapi dia tidak lagi membenci pelajaran itu. Nilainya naik
menjadi 80 dalam 3 bulan. Yang lebih penting, dia sekarang mau mencoba membaca
teks Bahasa Inggris tanpa dipaksa.
Pelajaran: Reward efektif untuk membangun
kebiasaan baru pada aktivitas yang awalnya tidak disukai.
Bagian 7: Kapan Sebaiknya Tidak Memberi Reward?
Ada kalanya memberi reward justru tidak dianjurkan.
Situasi 1: Untuk Aktivitas yang Seharusnya Menjadi
Tanggung Jawab Rutin
Contoh: Merapikan tempat tidur, mengerjakan PR
harian, membereskan mainan.
Mengapa tidak perlu reward: Aktivitas ini
adalah tanggung jawab dasar yang harus dilakukan tanpa
imbalan. Jika Anda memberi reward, anak akan belajar bahwa "jika tidak ada
reward, saya tidak perlu melakukannya."
Yang harus dilakukan: Gunakan pengingat dan konsekuensi
logis (bukan hukuman). Contoh: "Kalau kamu tidak merapikan
mainan, besok kamu tidak bisa bermain karena mainannya berserakan."
Situasi 2: Untuk Aktivitas yang Sudah Disukai Anak
Contoh: Anak suka menggambar, menyanyi, atau
bermain sepak bola.
Mengapa tidak perlu reward: Memberi reward untuk
aktivitas yang sudah intrinsik menyenangkan justru akan mematikan kesenangan
itu (Overjustification Effect).
Yang harus dilakukan: Beri pujian dan apresiasi,
tapi jangan jadikan reward sebagai "syarat" untuk melakukan aktivitas
tersebut.
Situasi 3: Untuk Hal yang Melibatkan Kreativitas dan
Pemecahan Masalah Kompleks
Contoh: Proyek seni, menulis cerita, penelitian
ilmiah.
Mengapa reward kurang efektif: Penelitian
menunjukkan bahwa reward eksternal justru menurunkan kreativitas.
Orang (termasuk anak) cenderung mengambil jalan pintas dan kurang inovatif jika
dikejar hadiah.
Yang harus dilakukan: Beri kebebasan, waktu, dan
sumber daya. Biarkan anak mengeksplorasi karena rasa ingin tahu, bukan karena
hadiah.
Bagian 8: Tips untuk Orang Tua (Jangan Lupakan Diri
Sendiri)
Memberi reward yang benar juga membutuhkan kesabaran
dan konsistensi dari Anda sebagai orang tua.
Tips 1: Jangan Gunakan Reward sebagai "Senjata"
Saat Marah
Contoh salah: "Kalau kamu tidak berhenti
menangis, tidak akan Ibu belikan mainan!"
Ini bukan reward. Ini suap dan ancaman. Anak akan belajar
bahwa menangis adalah cara untuk mendapatkan barang.
Tips 2: Konsisten
Jika Anda sudah menyepakati reward system (misal: stiker
chart), konsistenlah. Jangan sesekali memberi reward ekstra tanpa
alasan, jangan sesekali tidak memberi reward padahal anak sudah mencapai
target.
Tips 3: Jangan Bandingkan Reward Antar Saudara
Setiap anak berbeda. Jangan sampai anak A mendapat reward
lebih besar dari anak B untuk pencapaian yang sama. Ini akan memicu
kecemburuan.
Jika anak bertanya, "Kok adek dapat hadiah lebih
besar?", jawab: "Setiap orang punya target masing-masing. Yang
penting adalah kamu sudah berusaha maksimal."
Tips 4: Evaluasi Secara Berkala
Apakah reward system Anda masih efektif? Apakah anak masih
termotivasi? Atau justru mulai bosan dan menuntut lebih? Jika perlu, sesuaikan.
Tips 5: Jangan Lupa Memberi Reward pada Diri Sendiri
Sebagai orang tua, Anda juga butuh apresiasi. Anda sudah
berusaha keras mendampingi anak. Beri reward pada diri sendiri: waktu
istirahat, kopi enak, atau sekadar jalan-jalan santai. Orang tua yang
bahagia akan lebih sabar dalam mendampingi anak.
Penutup: Reward Adalah Alat, Bukan Tujuan
Setelah membaca lebih dari 2.500 kata ini, semoga Anda
sekarang memiliki pemahaman yang lebih baik tentang cara memberi reward yang
tepat.
Ingatlah pesan terakhir ini:
Reward bukanlah tujuan akhir. Reward adalah alat untuk
membantu anak melewati masa-masa sulit dalam belajar, membangun kebiasaan baru,
dan merayakan pencapaian.
Tujuan sebenarnya adalah membangun motivasi
intrinsik anak – sehingga mereka belajar karena CINTA pada ilmu, bukan
karena TAKUT pada hukuman atau karena HADIAH.
Anak yang termotivasi secara intrinsik akan terus belajar
bahkan setelah Anda tidak ada di sisinya. Itu adalah reward terbesar bagi orang
tua.
Aksi nyata setelah membaca artikel ini:
- Evaluasi sistem
reward yang selama ini Anda terapkan. Apakah ada kesalahan dari Bagian 2?
- Tentukan 1
perilaku atau target belajar yang ingin Anda bangun pada anak minggu ini.
- Pilih
reward yang sesuai dengan usia anak (gunakan panduan di Bagian
4).
- Libatkan
anak dalam menentukan reward (tanyakan pendapatnya).
- Konsisten terapkan
selama minimal 2 minggu. Evaluasi hasilnya.
Selamat mendampingi anak belajar dengan penuh cinta dan
kebijaksanaan!
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN CAKRAWALA EDUCENTRE